ACEH BARAT, Lintasperistiwa.net
Tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa bakat, Kecamatan woyla, Kabupaten Aceh Barat,berlangsung secara meriah. Tahun ini, masyarakat setempat menghadirkan 11 ornamen unik berbahan makanan ringan (snack) dengan beragam bentuk dibanding tahun-tahun lalu.
Peringatan Maulid Akbar tersebut digelar pada senin, 29 September 2026, dengan melibatkan masyarakat secara swadaya. Untuk membuat 10 ornamen tersebut, masyarakat menghabiskan anggaran yang diperkirakan mencapai Rp.50 juta.
Beragam bentuk ornamen yang ditampilkan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Di antaranya,tugu zamzam,Betra nabi noh,kios arab,bintang Bulen,rincong Aceh,tugu khatulistiwa,gerbang masjid,gerbang Mekah,tugu rehai,tugu Bogor,tugu turki.
ketua pemuda gampong bakat,Nasrullah, mengatakan seluruh ornamen dikerjakan secara berkelompok oleh masyarakat selama kurang lebih tiga pekan.
“Pengerjaan seluruh ornamen ini memakan waktu sekitar tiga pekan dan dikerjakan oleh masing-masing kelompok,” ujar Nasrullah
Menurutnya, tradisi ini pertama kali dilakukan oleh masyarakat bakat dan kerjasama antar pemuda.
Tidak hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tradisi tersebut akan menjadi salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat bakat yang akan dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan kemeriahan Maulid tahun ini juga terlihat tinggi. Pengunjung tidak hanya berasal dari Desa bakat, tetapi juga dari sejumlah masyarakat di wilayah kecamatan woyla.
Acara Maulid Akbar dimulai setelah salat Zuhur dengan menghadirkan rombongan dike atau jamaah zikir dari sepuluh desa yang diundang oleh panitia.
“Acara Maulid Akbar dimulai siang setelah salat Zuhur. Ada sepuluh kampung yang kami undang dan Alhamdulillah seluruh tamu undangan sudah berhadir di sini untuk membawa nazam-nazam arab untuk memeriahkan maulid nabi Muhammad Saw,” kata keusyik bakat Mustafa Husen kepada wartawan.
Sementara itu, salah seorang pengunjung asal Desa kualabheee, Habibi , mengaku melihat kemeriahan Maulid di bakat tahun ini jauh lebih semarak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Habibi , kemeriahan itu tidak hanya terlihat dari banyaknya ornamen yang dipamerkan, tetapi juga dari penyambutan terhadap para tamu. Setiap desa undangan mendapatkan nasi beserta bu balai, yakni nasi ketan yang dihias dan menjadi salah satu bagian dari tradisi masyarakat setempat.
“Maulid di bakat kali ini jauh lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Setiap tamu undangan bukan hanya mendapat nasi, tetapi juga mendapatkan makanan ringan (Snack) yang menempel di setiap ornumen yang diberikan kepada setiap desa undangan,” ujar habibi.
Ia menilai hal tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa kondisi perekonomian masyarakat setempat terus mengalami perkembangan.
Bagi masyarakat bakat, kemeriahan Maulid bukan sekadar perayaan tahunan. Di balik ornamen snack yang penuh warna dan kreativitas, tersimpan semangat gotong royong, kebersamaan, serta upaya menjaga warisan budaya masyarakat agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.



