Tanggamus -Lintasperistiwa.net
Tim Penyuluh pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Mabes TNI melakukan kunjungan ke Polres Tanggamus, Jumat (28/8/2026). Kunjungan tersebut dalam rangka memperkuat sinergi dan upaya pencegahan serta penanggulangan Karhutla di wilayah Kabupaten Tanggamus.
Tim dipimpin Kolonel Cpm Tri Handaka, S.Pd., M.Si., selaku Pamen Ahli Bidang Bang Org Puspomad. Tim tersebut terdiri dari personel TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, serta didampingi Dandim 0424/Tanggamus Letkol Inf Dwi Djunaidi Mulyono, S.E., M.I.P.
Kedatangan tim diterima langsung Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko, S.I.K., M.H., bersama jajaran pejabat utama Polres Tanggamus. Dalam pertemuan tersebut, Kapolres memaparkan kondisi wilayah, kesiapan personel, hingga langkah mitigasi yang telah dilakukan menghadapi potensi Karhutla.
Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko menjelaskan, wilayah Kabupaten Tanggamus memiliki karakteristik geografis yang cukup luas dengan kawasan pertanian dan perkebunan yang berpotensi mengalami kebakaran, khususnya saat musim kemarau.
Menurutnya, Polres Tanggamus bersama Kodim 0424/Tanggamus, pemerintah daerah, BPBD, serta unsur terkait telah melakukan berbagai langkah antisipasi. Salah satunya melalui apel gelar pasukan dan pembentukan posko tanggap siaga bencana di lingkungan Polres Tanggamus.
“Kami sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan, baik tanah longsor, banjir maupun penanganan kebakaran hutan dan lahan. Posko ini menjadi bagian dari kesiapan kami apabila sewaktu-waktu menerima laporan kejadian di lapangan,” kata AKBP Rahmad Sujatmiko.
Kapolres juga menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan selama sekitar dua bulan terakhir, terdapat sejumlah titik panas yang terpantau di wilayah Kabupaten Tanggamus. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kecamatan Bulok, khususnya kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Pringsewu.
“Di wilayah tersebut memang terdapat potensi karena kondisi lahan yang kering. Beberapa tahun sebelumnya juga pernah terjadi kebakaran lahan yang cukup luas, sehingga wilayah itu menjadi salah satu perhatian kami,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi munculnya titik api, Polres Tanggamus telah menginstruksikan jajaran Polsek, Bhabinkamtibmas, Babinsa, hingga aparatur pekon untuk meningkatkan pemantauan dan segera melakukan penanganan apabila ditemukan indikasi kebakaran.
Kapolres mengatakan, berdasarkan pemantauan titik panas melalui sistem satelit dan aplikasi pemantauan Karhutla, terdapat sejumlah titik yang perlu mendapat perhatian. Jajaran kepolisian bersama Forkopimcam juga telah diarahkan untuk turun langsung ke lokasi guna memastikan kondisi di lapangan.
Selain faktor alam, pihaknya menemukan adanya indikasi pembakaran lahan yang dilakukan secara sengaja oleh sebagian warga. Pembakaran tersebut umumnya dilakukan untuk membersihkan sampah atau mempersiapkan lahan untuk kegiatan berikutnya.
“Kalau memang ditemukan adanya kesengajaan, pemilik lahan akan kami panggil dan diberikan pemahaman agar tidak mengulangi kegiatan pembakaran lahan. Ini menjadi perhatian supaya api tidak melebar ke lahan yang lebih luas,” tutupnya.
Sementara itu, Kolonel Cpm Tri Handaka mengatakan, Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI berjumlah sembilan personel dan akan melaksanakan kegiatan penyuluhan di wilayah Tanggamus dan Pringsewu.
Ia mengapresiasi langkah mitigasi yang telah dilakukan Polres Tanggamus bersama Kodim 0424/Tanggamus dan jajaran terkait dalam mencegah terjadinya Karhutla.
“Pada intinya, baik Polres, Kodim maupun tim penyuluh memiliki semangat yang sama. Meskipun berbeda instansi, instruksinya sama, yaitu mencegah kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, kita perlu bersinergi di lapangan,” kata Kolonel Cpm Tri Handaka.
Menurutnya, langkah preventif yang dilakukan secara berjenjang melalui Polsek hingga perangkat kewilayahan sangat penting untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kejadian yang lebih besar.
Ia juga menilai bahwa kebiasaan masyarakat dalam membakar sampah maupun membersihkan lahan dengan cara dibakar perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, kebiasaan tersebut merupakan bagian dari kultur yang harus perlahan diarahkan kepada cara-cara yang lebih aman.
“Memang ada kearifan lokal dan kebudayaan masyarakat dalam membersihkan lahan atau sampah dengan cara dibakar. Namun, kita berupaya agar hal tersebut tidak meluas, terutama sampai masuk ke kawasan hutan dan menyebabkan kebakaran yang lebih besar,” ujarnya.
Kolonel Cpm Tri Handaka berharap sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga potensi Karhutla di Tanggamus dan Pringsewu dapat dicegah sejak dini.
“Harapan kami, sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah dan masyarakat terus diperkuat. Dengan langkah pencegahan dan mitigasi yang dilakukan sejak dini, mudah-mudahan potensi Karhutla di wilayah Tanggamus dan Pringsewu dapat kita cegah bersama sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” tutupnya. (MT)


