Surabaya, Lintas peristiwa.net
Pemandangan baru di sejumlah pusat perbelanjaan milik Pakuwon Group di Surabaya belakangan menyita perhatian warganet. Sejak pertengahan Juli 2026, pagar besi setinggi sekitar 2,5 hingga 3 meter dengan model palisade berujung meruncing mulai berdiri mengelilingi empat mal besar: Pakuwon Mall di Surabaya Barat, Royal Plaza di Surabaya Selatan, Pakuwon City Mall di Surabaya Timur, dan Tunjungan Plaza di Surabaya Pusat.
Video dan foto proses pemasangan pagar tersebut menyebar luas di media sosial, memicu berbagai spekulasi. Sebagian warganet mengaitkannya dengan kekhawatiran soal pelemahan ekonomi, sementara yang lain menduga langkah ini sebagai antisipasi terhadap potensi kerusuhan atau penjarahan massal.
Menanggapi ramainya perbincangan, Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, angkat bicara dan membantah seluruh spekulasi tersebut. Ia menegaskan pemasangan pagar murni merupakan bagian dari peningkatan keamanan, keselamatan pengunjung, dan program peremajaan fasilitas — bukan respons terhadap kondisi ekonomi maupun ancaman tertentu.
Sutandi menjelaskan setiap lokasi memiliki latar belakang berbeda. Di Pakuwon Mall, pagar dibangun menyusul rampungnya proyek Radial Road di sekitar kawasan, yang mengubah pola lalu lintas dan menuntut perlindungan tambahan bagi pejalan kaki agar tidak langsung berhadapan dengan jalan raya. Di Royal Plaza, alasannya lebih teknis: pagar lama yang sudah dipakai hampir satu dekade telah keropos dan berkarat, sehingga diganti dengan material yang lebih kokoh. Pakuwon City Mall mengalami pembaruan serupa dengan alasan yang sama, dan karena waktu pengerjaannya berdekatan, pihak pengelola sekaligus membangunnya secara bersamaan.
Sementara itu, Tunjungan Plaza — yang berlokasi di pusat kota, tak jauh dari Gedung Negara Grahadi — disebut akan menjadi mal berikutnya yang dipagari. Berbeda dari tiga lokasi lain, Sutandi tidak menampik bahwa faktor keamanan terkait aksi unjuk rasa turut menjadi pertimbangan di sini, mengingat kawasan tersebut kerap dilintasi massa demonstran menuju Grahadi. Dengan pagar permanen, petugas keamanan mal tak perlu lagi berulang kali memasang barikade sementara setiap kali ada aksi massa.
Sutandi juga menepis anggapan bahwa pemasangan pagar berkaitan dengan pelemahan bisnis ritel. Ia mengklaim kinerja bisnis Pakuwon Group justru menunjukkan tren positif sepanjang semester pertama 2026, dengan tingkat kunjungan mal yang tinggi selama musim libur sekolah.
Catatan: dari empat mal, hanya Tunjungan Plaza yang alasannya secara eksplisit menyinggung antisipasi aksi demonstrasi, tiga lainnya (Pakuwon Mall, Royal Plaza, Pakuwon City Mall) dijelaskan murni karena faktor teknis seperti lalu lintas dan usia pagar.




