Doo Deiyai, Lintasperistiwa.net
Keluarga Pasifik Bersuara PM Kepulauan Solomon Angkat West Papua di UNGA.
Poster itu bukan poster biasa poster itu adalah tanda zaman telah bergeser poster itu menunjukkan dua bendera yang berkibar sejajar di atas mimbar PBB bendera Kepulauan Solomon dengan lima bintang putih dan garis kuning hijau dan bendera Bintang Kejora merah putih biru dengan bintang putih besar di tengah dua bendera itu digantung di dalam ruang sidang umum PBB yang paling sakral tempat semua bangsa berkumpul dan di bawahnya tertulis Keluarga Pasifik Bersuara.
Makna paling dalam dari poster itu adalah bahwa West Papua tidak lagi sendirian di ruang diplomatik yang selama puluhan tahun dikunci oleh Jakarta dengan lobi besar dan bantuan ekonomi.
Perdana Menteri Matthew Wale yang baru dilantik pada bulan Mei tahun dua ribu dua enam setelah memenangkan dua puluh enam suara dari lima puluh suara parlemen melawan mantan menteri luar negeri Peter Shanel Agovaka dan menggantikan Jeremiah Manele yang jatuh karena mosi tidak percaya adalah sosok yang sangat konsisten membela West Papua jauh sebelum menjadi perdana menteri ketika masih menjadi pemimpin oposisi dia sudah berulang kali mengecam rencana pemindahan orang asli Papua dan menyebutnya sebagai pembersihan etnis dia juga pernah mengecam keras ketika Perdana Menteri Sogavare tidak menyebut West Papua di UNGA padahal Sogavare dulu adalah pembela West Papua.
Kini ketika Matthew Wale sendiri berdiri di podium UNGA ke delapan puluh satu di New York dia melakukan apa yang tidak dilakukan pendahulunya dia mengangkat kembali masalah West Papua dengan suara haru dia mengingatkan dunia bahwa laporan pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat tidak boleh diabaikan atau dibiarkan begitu saja kalimat itu sederhana tapi berat secara diplomatik karena ia mengucapkan apa yang selama ini ditahan oleh negara negara Pasifik yang takut dengan tekanan ekonomi Indonesia.
Tuntutan yang disampaikan Wale di dalam poster itu sangat jelas yaitu verifikasi independen dan agar Indonesia memfasilitasi kunjungan Komisaris Tinggi HAM PBB ke Papua Barat yang telah lama ditunggu kunjungan itu sudah diminta sejak tahun dua ribu sembilan belas oleh forum negara Pasifik tapi selalu ditunda dengan berbagai alasan teknis kini di UNGA ke delapan puluh satu Wale menegaskan kembali bahwa PBB harus mendengarkan Pasifik harus berbicara dan Indonesia harus bertanggung jawab.
Mengapa ini penting bagi Konfederasi Serikat Buruh Orang Asli Papua dan bagi adat Bhuyaka Iyuga Iyuga karena suara dari Pasifik adalah cermin dari suara abhuafa di kampung ketika abhuafa tidak didengar di kampung maka tanah dijual ketika suara Pasifik tidak didengar di PBB maka tanah Papua dijual juga logikanya sama keluarga Pasifik adalah abhuafa besar bagi keluarga Melanesia West Papua adalah anak yang harus dilindungi dari ondofolo palsu yang menjual tanahnya.
Solidaritas Pasifik penting karena Indonesia selama ini membangun narasi bahwa masalah Papua adalah urusan domestik tidak ada yang boleh campur tapi ketika Solomon Islands Vanuatu dan negara negara Melanesia lain bersuara di UNGA maka narasi domestik itu runtuh masalah Papua menjadi masalah keluarga Melanesia masalah kemanusiaan internasional masalah dekolonisasi yang belum selesai.
Poster itu juga adalah pesan politik kepada Jakarta bahwa pendekatan militer dan pemekaran tidak akan menghapus identitas Melanesia orang Papua tidak akan menjadi Melayu karena bendera yang dikibarkan di samping bendera Solomon adalah Bintang Kejora bukan merah putih itu adalah pengakuan identitas bahwa orang Papua adalah Melanesia adalah keluarga Pasifik adalah bagian dari samudra bukan bagian dari benua Asia.
Akhir dari poster itu ditulis dari keluarga Pasifik hingga ke panggung dunia Papua Barat harus dilihat didengar dan bebas dengan empat kata kunci solidaritas keadilan hak asasi manusia perdamaian itulah bahasa baru perjuangan Papua yang tidak lagi hanya tentang perang dan damai tapi tentang martabat sebagai manusia Melanesia yang setara dengan semua bangsa di Pasifik.
Jadi poster Keluarga Pasifik Bersuara ini bukan sekadar desain grafis ini adalah dokumen politik bahwa di UNGA ke delapan puluh satu tahun dua ribu dua enam West Papua kembali ke meja dunia dibawa oleh saudara kandungnya sendiri Kepulauan Solomon dan ini adalah momentum yang harus dijaga oleh serikat buruh oleh adat Bhuyaka oleh semua yang percaya pada amanat leluhur HOLEI NAREI bahwa tanah air dan manusia harus tetap utuh bermartabat dan bebas.



