kerinci, Lintasperistiwa.net
Krisis kabut asap pekat yang mengepung wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh memicu gelombang kritik keras dari masyarakat, orang tua siswa, serta aktivis terhadap lambannya respons kepala daerah setempat.
Alih-alih mengambil langkah cepat demi menyelamatkan kesehatan generasi muda, kebijakan penanganan bencana dari Bupati Kerinci dan Wali Kota Sungai Penuh dinilai abai. Hingga saat ini, aktivitas kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah tetap dipaksakan berjalan normal di tengah kualitas udara yang memburuk.
Ribuan anak sekolah terpaksa harus menghirup udara beracun dalam perjalanan menuju sekolah maupun saat mengikuti proses belajar di dalam kelas tanpa perlindungan yang memadai. Kondisi ini membuat para orang tua siswa resah karena anak-anak mereka terancam terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Masyarakat mendesak agar pemerintah daerah segera mengambil tindakan tanggap darurat, termasuk meliburkan aktivitas sekolah sementara waktu atau menerapkan pembelajaran jarak jauh demi mengutamakan keselamatan jiwa warga, khususnya anak-anak. Sikap pasif kedua pemimpin daerah ini dinilai sebagai bentuk kegagalan dalam melindungi keselamatan rakyat dari dampak bencana ekologis



