Deretan kapal nelayan berhias aneka bendera dan ornamen warna-warni memenuhi perairan Kampung Muara Bendera, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Selasa (14/7/2026). Pemandangan itu menandai kembalinya Nadran, tradisi sedekah laut yang telah diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT melalui hasil laut.
Tradisi tahunan yang sempat tidak digelar pada 2025 itu kembali disambut antusias masyarakat. Sejak pagi, ratusan kapal meninggalkan dermaga secara beriringan. Di setiap kapal tampak tergantung aneka makanan dan minuman yang dibagikan kepada warga serta pengunjung yang ikut menyaksikan kemeriahan pesta laut tersebut.
Prosesi utama Nadran berlangsung saat para nelayan melarung sesaji berupa kepala kerbau ke tengah laut. Sekitar 700 hingga 800 kapal mengawal prosesi menuju perairan yang berjarak sekitar tiga kilometer dari pesisir Muara Bendera. Bagi masyarakat nelayan, prosesi itu menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa agar hasil tangkapan tetap melimpah dan para nelayan diberi keselamatan saat melaut.
Ketua Panitia Nadran, Rasim, mengatakan tradisi tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari identitas masyarakat pesisir Muaragembong yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
"Yang mengikuti kegiatan tahun ini sekitar 700 sampai 800 kapal. Intinya kami bersyukur karena kehidupan masyarakat di sini bergantung pada hasil laut," ujar Rasim.
Menurut dia, pelaksanaan Nadran tahun ini menjadi yang paling meriah dalam beberapa tahun terakhir. Selain mendapat dukungan dari masyarakat dan sejumlah donatur, tingginya partisipasi nelayan juga dipengaruhi kerinduan untuk kembali menggelar tradisi yang sempat terhenti pada tahun lalu.
Meski demikian, kemeriahan Nadran belum sepenuhnya menggambarkan kondisi nelayan di lapangan. Rasim mengungkapkan persoalan pasokan BBM dan LPG masih menjadi hambatan utama bagi nelayan untuk melaut. Kelangkaan dan tingginya harga bahan bakar dinilai membebani biaya operasional, terutama bagi kapal-kapal kecil yang menggunakan LPG.
"Kami berharap persoalan BBM dan LPG bisa mendapat perhatian. Dua kebutuhan itu sangat menentukan aktivitas nelayan untuk mencari nafkah di laut," katanya.
Ia juga menyebut penyelenggaraan Nadran hingga kini masih didominasi semangat gotong royong masyarakat. Sebagian besar biaya kegiatan berasal dari swadaya nelayan dan bantuan para donatur, sementara dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi dinilai masih perlu ditingkatkan.
Bagi masyarakat Muara Bendera, Nadran bukan hanya perayaan budaya, melainkan juga ruang untuk mempererat kebersamaan sekaligus menjaga warisan leluhur. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi nelayan, tradisi sedekah laut tetap menjadi pengingat bahwa laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga bagian dari kehidupan yang patut disyukuri dan dijaga kelestariannya.



